a story about choices, changes and commitment
sedikit fiktif
pukul 00.12 saat saya ingat kalau pagi ini saya masih bermalas-malasan. membuang percuma ide-ide yang mungkin bisa berguna untuk hari kemarin. masih mengenakan outfit yang sama untuk setiap hari, setiap minggunya. masih mendengarkan playlist yang sama. masih belum membereskan meja kerja kecil ini. terlalu banyak yang dipikirkan, terlalu banyak yang dikhawatirkan. sudah 24 tahun 3 bulan saat ini. dan beberapa teman sudah memantapkan langkah bersama pasangannya masing-masing. saya masih berkutat dengan hal yang saya sendiri belum terlalu pasti.
melihat ke sekeliling kamar. oke, ada beberapa brainstroming tentang beberapa hal. pekerjaan kecil dan Tugas Akhir yang masih berusaha untuk saya selesaikan. ini kali ketiganya saya mengambil mata kuliah terakhir yang sangat sakral ini. di lain hal saya tidak merubah judulnya karena ini menyangkut janji. kepada keluarga tentu, selain pembuktian diri juga ini karena saya mencari bahannya bersama sahabat yang sekarang sudah tidak bersama lagi. selalu saya doakan agar dia lebih tenang disana..
progress nya tidak terlalu buruk. sudah ketahuan akan dibuat seperti apa. bahan sudah cukup untuk melalui tahapan kedua. seperti biasa banyak hal yang tidak penting berusaha menarik kesadaran ini keluar dari zona Tugas Akhir. dari kesempatan untuk mengunjungi Mid East, China republic ataupun yang paling dekat Singapore. mungkin juga Bali. masih belum terlalu mengerti kenapa jadwal tentang proses kedua ini tidak bisa pasti. dan uang nya pun sudah lenyap entah kemana. tapi mungkin kenikmatan dan keseruannya disana. mungkin, semoga saja.
di titik ini saya berusaha untuk memulai menghentikan beberapa hal seperti explaining myself to everybody or maybe stop hearing people that actually trying to explain theirself to everybody . saya juga tidak begitu mengerti kenapa itu harus dan kenapa itu perlu tapi saya rasa itu bagus untuk saat ini.
because fuck you, and thats why
fuck you fucking fuck
beberapa line yang saya sering ucapkan sendiri di dalam kepala ketika semuanya tidak berjalan seperti seharusnya. nobody does, nobody have.
Stop spending time with the wrong people. – Life is too short to spend time with people who suck the happiness out of you. If someone wants you in their life, they’ll make room for you. You shouldn’t have to fight for a spot. Never, ever insist yourself to someone who continuously overlooks your worth. And remember, it’s not the people that stand by your side when you’re at your best, but the ones who stand beside you when you’re at your worst that are your true friends.
tentu saya juga bukan teman yang baik, bukan saudara yang baik juga mungkin, masih berusaha menjadi anak yang baik. tapi semua orang punya kesempatan untuk mencoba bukan?
setidaknya saya berusaha untuk tidak menyusahkan, sangat tidak ingin merepotkan siapapun walaupun yang jelas orangtua saya pasti merasa repot karena saya sangat lama tidak berada disekitar mereka yang sudah mulai menua. secepatnya saya akan kembali dan mengurus mereka dan adik-adik yang semakin dewasa.
ada beberapa impian kecil saya, passion terhadap mobil dan mesin masih besar. mungkin karena hal itu yang sudah sangat akrab sedari saya pertama bisa mengingat benda dan hal. jikalau ada yang dahulu sempat menertawakan kegemaran saya ini atau menyuruh saya untuk keluar dari kotak. um.. mungkin saya mendengarkan tapi saya tidak pernah menuruti saran di luar kepala saya. saya skeptis dengan apa yang mereka maksud dan inginkan. whatever whatever whatever..
nanti akan saya lanjutkan…